Komunikasi dan Efektivitas Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Oleh : Alin Rachmawati



Jika saya mengumpamakan diri sebagai karyawan regulator pasar modal, hal yang saya perhatikan dari kebijakan Bank Indonesia adalah tingkat suku bunga SBI karena akan menimbulkan efek rambatan berupa perkiraan terhadap hal-hal sebagai berikut :

  • Berapa tingkat bunga bank?

  • Lebih untung menyimpan uang di deposito atau diinvestasikan di pasar modal?

  • Berapa suku bunga kpr? Bagaimana dampaknya terhadap sektor properti?

  • Jika menimbulkan demand pull inflation, bagaimana dampaknya terhadap sektor manufaktur dan retail?


Jawaban pertanyaan paragraf pertama diatas tidak saya kalkulasikan secara rinci, tetapi digunakan sebagai alat untuk membaca herding behavior masyarakat. Selain itu, berandai-andai menjadi seorang manajer investasi bagi diri sendiri, yaitu :

  • Besok beli apa ya? Saham, reksadana, etf, atau obligasi?

  • Saham apa yang kira-kira prospektif dalam jangka pendek?

  • Mana yang harus dijual atau di-reedemp?

  • Seberapa banyak yang harus di-hold?

Pada paragraf pertama diatas saya menggunakan istilah efek rambatan, bukan efek domino dimana antara satu hal dan lainnya berdampak secara cepat. Dalam suatu media cetak, perubahan tingkat suku bunga SBI dirasakan langsung oleh tingkat industri. Bagi konsumen individu, perubahan tersebut bisa dirasakan sekitar tiga bulan setelah diumumkan. Pantaslah kiranya ada surat pembaca di media cetak yang mempertanyakan suku bunga kpr-nya tidak segera diturunkan ataupun suku bunga depositonya tidak dinaikkan oleh bank tempat si nasabah tersebut berhutang atau menabung.


Apakah kebijakan moneter Bank Indonesia tidak efektif? Karena saya bukan ekonom, maka saya mengutip pendapat Kahlil Rowter dari tulisan beliau 'Koordinasi Kebijakan Fiskal dan Moneter' sebagai berikut :

Bukti tidak adanya koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal adalah apa yang terjadi pada akhir bulan Agustus 2001 lalu. Pada minggu keempat bulan Agustus terjadi kenaikan stok uang primer sebesar Rp 4,98 triliun. Akibatnya Bank Indonesia terpaksa menaikkan suku bunga SBI (1 bulan) dari 17,67% pada akhir Agustus 2001 dan kemudian menjadi 17,69% pada minggu pertama bulan September. Hal ini dilakukan BI meskipun pada bulan Agustus telah terjadi deflasi, dan juga diperkirakan pada bulan September masih akan terjadi deflasi.


Setelah 6 tahun peristiwa tersebut berlalu, kita berharap saja antara kebijakan fiskal dan moneter bisa lebih harmonis. Entah berkaitan dengan pengangkatan sebagai guru besar atau tidak, seorang petinggi Bank Indonesia di sebuah media cetak mengatakan bahwa koordinasi antara fiskal dan moneter saling berkaitan, jika kebijakan fiskal x maka moneter y dan sebaliknya. Mudah-mudahan saja begitu karena masyarakat pada umumnya melihat apa yang mereka bisa beli hari ini untuk makan (purchasing power parity). Contohnya, sebuah media elektronik per tanggal 11 Januari 2008 memberitakan akan adanya kelangkaan tahu dan tempe akibat naiknya harga kedelai dari Rp 3.000,- menjadi Rp 7.000,- per kilogramnya.


Bagaimana kedua lembaga ini berkomunikasi? Ibarat manusia yang bisa berkomunikasi lewat bahasa tubuh (gesture) maka kedua lembaga ini dapat berkomunikasi melalui indikator kebijakan moneter dan fiskal yang disandingkan sehingga memberi sinyal yang sinkron bagi para pengambil keputusan. Namun, tetap lebih afdol jika ada komunikasi lisan dan dibuat tersurat.


Bagaimana Bank Indonesia berkomunikasi dengan masyarakat? Cukup dengan updating websitenya dan petinggi Bank Indonesia tidak memberikan peryataan yang bisa salah dimengerti oleh masyarakat. Beberapa waktu lalu terjadi tebak-tebakan berapa suku bunga SBI setelah ada kalimat dari petinggi Bank Indonesia, “Pergerakan SBI tidak harus mengikuti The Fed.” Memang dollar Amerika sempat melemah terhadap beberapa mata uang asing lainnya sehingga ada analis ada yang merekomendasikan untuk menyimpan Euro maupun emas sebagai investasi jangka panjang. Namun, yang penting digarisbawahi disini adalah nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika tetap melemah disaat yang sama nilai tukar lainnya menguat. Hal ini tentu mengundang tanda tanya investor yang mengikuti gerak The Fed dalam rumus cepat penentuan investasinya. Mengutip tulisan di perspektif online Wimar Witoelar (WW) dengan judul 'Komunikasi Bank Sentral sama pentingnya dengan kebijakan moneter' sebagai berikut :

Komunikasi yang dilakukan hendaknya konsisten untuk mencegah menimbulkan kebingungan. WW juga menekankan pentingnya Bank Sentral untuk bisa mengenal dan memahami media...WW sangat menyadari pada saat itu bahwa Bank Indonesia harus punya akses kelas satu pada media.”










smam7sby wrote on Jan 28
makasih
joyauri wrote on Feb 24
hai. ketemu blog ini dari search ttg microtia di google. bisa minta tolong email ke saya .. setia_h@hotmail.com. thanks.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.